BAB II
PEMBAHASAN
1. Definisi Kebudayaan
Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang
memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurut Soerjanto
Poespowardojo, 1993). Selain itu Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa
Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Adapun menurut istilah
Kebudayaan merupakan suatu yang agung dan mahal, tentu saja karena ia tercipta
dari hasil rasa, karya, karsa,dan cipta manusia yang kesemuanya merupakan sifat
yang hanya ada pada manusia. Tak ada makhluk lain yang memiliki anugrah itu
sehingga ia merupakan sesuatu yang agung dan mahal.
Menurut Koentjaraningrat, budaya adalah keseluruhan sistem gagasan
tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang
dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar.
1.1 Definisi Kebudayaan Menurut Para
Ahli
Berikut ini definisi-definisi kebudayaan yang dikemukakan beberapa
ahli:
1. Edward B.
Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya
terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota
masyarakat.
2. M. Jacobs
dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi
sosial, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan
warisan sosial.
3.
Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil
karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri
manusia dengan relajar.
4. Dr. K.
Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan
pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu
maupun kelompok.
5. William H.
Haviland
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki
bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para
anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima
oleh semua masyarakat.
6. Ki Hajar
Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia
terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan
hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup
dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya
bersifat tertib dan damai.
1.2
Jenis-jenis Kebudayaan
1.2.1
Kebudayaan dapat dibagi menjadi 3 macam dilihat dari keadaan jenis-jenisnya :
- Hidup-kebatinan manusia, yaitu sesuatu yang menimbulkan tertib damainya hidup masyarakat dengan adat istiadatnya, pemerintahan negeri, agama atau ilmu kebatinan
- Angan-angan manusia, yaitu sesuatu yang dapat menimbulkan keluhuran bahasa, kesusasteraan dan kesusilaan.
- Kepandaian manusia, yaitu sesuatu yang menimbulkan macam-macam kepandaian tentang perusahaan tanah, perniagaan, kerajinan, pelayaran, hubungan lalu-lintas, kesenian yang berjenis-jenis; semuanya bersifat indah (Dewantara; 1994).
1.2.2
Kebudayaan berdasarkan wujudnya
Menurut J.J.
Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga, yaitu :
- Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal
kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,
nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak,
tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam
kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat.
- Aktivitas (tindakan)
Aktivitas
adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial.
Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling
berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut
pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret,
terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
- Artefak (karya)
Artefak adalah
wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya
semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat
diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga
wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan
yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh:
wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas)
dan karya (artefak) manusia.
1.2.3
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen
utama :
- Kebudayaan material
Kebudayaan material adalah kebudayaan yang mengacu pada semua
ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Contoh kebudayaan material ini adalah
temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah
liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup
barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian,
gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
- Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang
diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya dongeng, cerita rakyat, dan lagu
atau tarian tradisional.
1.2.4
Kebudayaan secara umum dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
1. Kebudayaan
Daerah
Kebudayaan Daerah adalah kebudayaan dalam wilayah atau daerah
tertentu yang diwariskan secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada
generasi berikutnya pada ruang lingkup daerah tersebut. Budaya daerah ini
muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir dan kehidupan
sosial yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka
dengan penduduk – penduduk yang lain. Budaya daerah mulai terlihat berkembang
di Indonesia
pada zaman kerajaan – kerajaan terdahulu. Hal itu dapat dilihat dari cara hidup
dan interaksi sosial yang dilakukan masing-masing masyarakat kerajaan di Indonesia
yang berbeda satu sama lain.
2.
Definisi Kebudayaan Nasional
Kebudayaan Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di
Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan
akulturasi dengan dareah lain di suatu negara akan terus tumbuh dan berkembang
menjadi kebiasaan-kebiasaan dari negara tersebut. Misalkan daerah satu dengan
yang lain memang berbeda, tetapi jika dapat menyatukan perbedaan tersebut maka
akan terjadi budaya nasional yang kuat yang bisa berlaku di semua daerah di
Negara tersebut walaupun tidak semuanya dan juga tidak mengesampingkan budaya
daerah tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia dan
Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928 yang
diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang membulatkan tekad
untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola pikir bahwa Indonesia memang
berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap dalam satu kesatuan Indonesia Raya
dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.
2.1
Kebudayaan nasional Indonesia
Kebudayaan Nasional Indonesia secara hakiki terdiri dari semua
budaya yang terdapat dalam wilayah Republik Indonesia. Tanpa budaya-budaya itu
tak ada Kebudayaan Nasional. Itu tidak berarti Kebudayaan Nasional sekadar
penjumlahan semua budaya lokal di seantero Nusantara. Kebudayan Nasional
merupakan realitas, karena kesatuan nasional merupakan realitas. Kebudayaan
Nasional akan mantap apabila di satu pihak budaya-budaya Nusantara asli tetap
mantap, dan di lain pihak kehidupan nasional dapat dihayati sebagai bermakna
oleh seluruh warga masyarakat Indonesia (Suseno; 1992).
Ada dua kelompok pandangan masyarakat Indonesia tentang kebudayaan
Indonesia, yaitu :
1. Kelompok
pertama yang mengatakan kebudayaan Nasional Indonesia belum jelas, yang ada
baru unsur pendukungnya yaitu kebudayaan etnik dan kebudayaan asing. Kebudayaan
Indonesia
itu sendiri sedang dalam proses pencarian.
2. Kelompok
kedua yang mengatakan mengatakan Kebudayaan Nasional Indonesia sudah ada.
pendukung kelompok ketiga ini antara lain adalah Sastrosupono. Sastrosupono.
Sastrosupono. Sastrosupono mencontohkan, Pancasila, bahasa Indonesia,
undang-undang dasar 1945, moderenisasi dan pembangunan (1982:68-72).
Adanya pandangan yang mengatakan Kebudayaan Nasional Indonesia belum
ada atau sedang dalam proses mencari, boleh jadi akibat:
(1) tidak
jelasnya konsep kebudayaan yang dianut dan pahami
(2) akibat
pemahaman mereka tentang kebudayaan hanya misalnya sebatas seni, apakah itu
seni sastra, tari, drama, musik, patung, lukis dan sebagainya. Mereka tidak
memahami bahwa iptek, juga adalah produk manusia, dan ini termasuk ke dalam
kebudayaan.
2.2
Situasi Budaya di Indonesia
Bersama lahirnya bangsa Indonesia, tumbuhlah kebudayaan
nasional Indonesia dengan unsure-unsurnya, yaitu : Bahasa Nasional Indonesia,
Lagu Kebangsaan Indonesia, Negara Republik Indonesia dengan segala
perlengkapannya, UUD 1945, dan manifestasi-manifestasi kesenian.
Situasi Budaya Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Pasalnya,
semakin banyak kebudayaan Indonesia yang diklaim oleh Negara tetangga kita
sendiri yaitu Malaysia. Seperti tari reog ponorogo, dan yang baru akhir-akhir
ini terjadi yaitu tari pendet yang diklaim juga oleh Malaysia. Hak paten atas kebudayaan
dalam hal ini sangat berperan penting. Pemerintah baru menyadari akan perlunya
hak paten tersebut setelah adanya klaim-mengklaim Malaysia
terhadap Kebudayaan Indonesia.
Menurut saya stabilitas situasi budaya di Indonesia dapat terwujud dengan
cara mempublikasikan kebudayaan kita kepada bangsa luar, dengan demikian secara
tidak langsung menghak-patenkan kebudayaan kita. Selain itu proses akulturasi
yang negatif dapat mempengaruhi situasi budaya di Indonesia semakin memprihatinkan.
Sajiman Surjohadiprojo dalam pidato kebudayaannya di tahun 1986
menyampaikan tentang persoalah kita hari ini, yaitu kurang kuatnya kemampuan
mengeluarkan energi pada manusia Indonesia. Hal ini mengakibatkan
kurang adanya daya tindak atau kemampuan berbuat. Rencana konsep yang baik,
hasil dari otak cerdas, tinggal dan rencana dan konsep belaka karena kurang
mampu untuk merealisasikannya. Akibat lainnya adalah pada disiplin dan
pengendalikan diri. Lemahnya disiplin bukan karena kurang kesadaran terhadap
ketentuan dan peraturan yang berlaku, melainkan karena kurang mampu untuk
membawakan diri masing-masing menetapi peraturan dan ketentuan yang berlaku.
Kurangnya kemampuan mnegeluarkan energi juga berakibat pada besarnya
ketergantungan pada orang lain. Kemandirian sukar ditemukan dan mempunyai
dampak dalam segala aspek kehidupan termasuk kepemimpinan dan tanggung jawab.
Menurut beliau kelemahan ini merupakan Kelemahan Kebudayaan.
Artinya, perbaikan dari keadaan lemah itu hanya dapat dicapai melalui
pendekatan budaya. Pemecahannya harus melalui pendidikan dalam arti luas dan
Nation and Character
Building
(Surjohadiprodjo, dalam ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999).
Mochtar Lubis juga dalam kesempatan yang sama saat Temu Budaya tahun
1986, menyampaikan bahwa kondisi budaya kita hari ini ditandai secara dominan
oleh ciri:
- Kontradiksi gawat antara asumsi dan pretensi moral budaya Pancasila dengan kenyataan
- Kemunafikan
- Lemahnya kreativitas
- Etos kerja yang lemah
- Neo-Feodalisme
- Budaya malu telah sirna ( Lubis, 1999).
2.2.1
Tantangan-tantangan kebudayaan di Indonesia
1. Kebudayaan
Modern Tiruan
Tantangan yang sungguh-sungguh mengancam kita adalah Kebudayaan
Modern Tiruan. Dia mengancam justru karena tidak sejati, tidak substansial.
Yang ditawarkan adalah semu. Kebudayaan itu membuat kita menjadi manusia
plastik, manusia tanpa kepribadian, manusia terasing, manusia kosong, manusia
latah.
Kebudayaan Blasteran Modern bagaikan drakula: ia mentereng,
mempunyai daya tarik luar biasa, ia lama kelamaan meyedot pandangan asli kita
tentang nilai, tentang dasar harga diri, tentang status. Ia menawarkan kemewahan-kemewahan
yang dulu bahkan tidak dapat kita impikan. Ia menjanjikan kepenuhan hidup,
kemantapan diri, asal kita mau berhenti berpikir sendiri, berhenti membuat kita
kehilangan penilaian kita sendiri. Akhirnya kita kehabisan darah , kehabisan
identitas. Kebudayaan modern tiruan membuat kita lepas dari kebudayaan
tradisional kita sendiri, sekaligus juga tidak menyentuh kebudayaan teknologis
modern sungguhan (Suseno;1992).
2. Masalah
Pendidikan yang Tepat
Pendidikan masih menjadi permasalahan yang menjadi perhatian serius
jika bangsa ini ingin dipandang dalam percaturan dunia. Ada fenomena yang menarik terkait dengan hal
ini, yaitu mengenai kolaborasi kebudayaan dengan pendidikan, dalam artian
bagaimana sistem pendidikan yang ada mengintrinsikkan kebudayaan di dalamnya.
Dimana ada suatu kebudayaan yang menjadi spirit dari sistem pendidikan yang
kita terapkan.
3. Mengejar
Kemajuan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Problem ini beranjak ketika kita sampai saat ini masih menjadi
konsumen atas produk-produk teknologi dari negara luar. Situasi keilmiahan kita
belum berkembang dengan baik dan belum didukung oleh iklim yang kondusif bagi
para ilmuan untuk melakukan penelitian dan penciptaan produk-produk, teknologi
baru. Jika kita tetap mengandalkan impor produk dari luar negeri, maka kita
akan terus terbelakang. Oleh karena itu, hal ini tantangan bagi kita untuk
mengejar ketertinggalan iptek dari negara-negara maju.
2.2.2 Cara Mempertahankan Kebudayaan Indonesia
Berikut ini adalah cara-cara mempertahankan kebudayaan Indonesia :
- Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
- Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
- Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
- Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
- Selektif terhadap kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia
- Pemerintah harus Menghak-patenkan kebudayaan-kebudayaan di Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar