Jumat, 20 April 2012

Sejarah Indonesia


GERAKAN SOSIAL

Selama abad ke-19 dan ke-20 di Indonesia terus-menerus mengalami pemberontakan-pemberontakan. Tidak dapat disangkal lagi bahwa dominasi Barat beserta perubahan-perubahan sosial yang mengikutinya telah menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan rakyat untuk berkecenderungan melakukan pergolakan sosial. Dominasi ekonomi, politik dan cultural yang terjadi pada masa colonial telah mengakibatkan timbulnya desorganisasi di kalangan masyarakat tradisionil beserta lembaga-lembaganya.
Dalam bidang politik, timbul banyak ketegangan-ketegangan dan ketidakstabilan sebagai akibat meluasnya penetrasi sistem administrasi yang bersifat legal rasionil yang dibawa oleh pemerintah kolonial. Sementara itu, lembaga-lembaga politik tradisionil menjadi semakin terdesak.
Dalam menghadapi pengaruh penetrasi budaya Barat yang memiliki kekuatan desintegratif, masyarakat Indonesia mempunyai cara-cara untuk membuat reaksi sendiri. Karena di dalam sistem kolonial tidak terdapat lembaga untuk menyalurkan perasaan tidak puas, maka jalan yang dapat ditempuh adalah dengan mengadakan gerakan sosial sebagai protes sosial.

Gerakan Melawan Pemerasan
Agitasi kaum petani yang timbul di tanah partikelir sepanjang abad 19 dan 20 merupakan akibat dari adanya pungutan pajak yang tinggi dan tuntutan pelayanan kerja yang berat terhadap kaum petani di daerah itu.
Tanah partikelir timbul sebagai akibat dari praktek penjualan tanah yang dilakukan oleh orang Belanda semenjak permulaan zaman VOC sampai perempatan pertama abad ke-19. Sebagian besar tanah itu dimiliki oleh persekutuan usaha bersama, oleh tuan-tuan tanah Bangsa Eropa yang tinggal di luar Indonesia dan oleh orang-orang Cina. Salah satu ciri yang terpenting dalam bangunan masyarakat di tanah partikelir adalah hilangnya persekutuan hidup di dalam desa.
Tindakan sewenang-wenang dari pemerintah seperti penindasan dan korupsi mengakibatkan timbulnya kegelisahan dan dendam di kalangan para petani sehingga akhirnya meletuslah suatu bentuk kerusuhan-kerusuhan yang terjadi berulang kali. Corak agitasi petani yang khas menunjukkan rasa benci yang meluap-luap bahwasanya tuan-tuan tanah menjadi sasaran utama permusuhan tersebut. Di dalam masyarakat tradisionil Jawa, hamper semua gerakan-gerakan sosialnya mempunyai warna keagamaan.
Sistem pemilikan tanah partikelir dalam masyarakat, dengan meluasnya sistem ekonomi-uang, maka telah melumpuhkan kehidupan petani. Oleh karenanya adanya kemelaratan maka kejahatan meningkat. Meningkatnya perampokan, misalnya, dapat dihubungkan dengan meningkatnya protes sosial yang tidak terorganisasi.

Gerakan Ratu Adil
Gerakan ini selalu bersandar pada segi-segi gaib dan umumnya menjelma dalam segi-segi eskatologis dan milenaristis. Memang gerakan itu haruslah dipandang sebagai gerakan yang bersifat revolusioner dalam pengertian bahwa gerakan itu menghendaki suatu perubahan mutlak. Secara singkat gerakan itu menghendaki munculnya suatu milenium, yaitu harapan terhadap datangnya zaman keemasan yang tidak mengenal penderitaan rakyat dan waktu semua ketegangan serta ketidakadilan telah lenyap.
Selama pertengahan pertama abad ke-19 secara berturut-turut muncul gerakan yang menunjukkan bahwa harapan mesianistis merupakan faktor yang penting dalam pandangan mata pemerintah. Sifat nativistis dari gerakan itu tercermin dalam harapan-harapannya akan kembalinya kerajaan pribumi. Selama pertengahan kedua dari abad itu pula ide mesianistis semakin menjadi lebih baik.
Pada sekitar tahun 1920-an terdapat pergolakan tradisionil di Jawa yang berdampingan dengan gerakan nasionalisme modern. Sebagian masyarakat Jawa masih mempertahankan tradisi, seperti dalam pemujaan nenek-moyang, orang-orang keramat dan kekuatan magis. Sifat agama dari gerakan-gerakan protes tradisionil umumnya dihasilkan oleh kenyataan bahwa masyarakat tradisionil umumnya membuat reaksi terhadap perubahan sosial yang bersifat keagamaan. Akibatnya gerakan-gerakan agama cenderung untuk menjadi revolusioner sifatnya, bertujuan untuk mengadakan perubahan secara mutlak dan radikal.
Pesantren dan tarekat mempunyai peranan penting dalam perkembangan gerakan mesianistis. Banyak pemimpin agama yang merasa terpanggil untuk memproklamasikan diri sebagai pemimpin mesianistis sebagai akibat dari penetrasi Barat yang semakin mendalam. Akibatnya dengan sikap bermusuhan, maka pemimpin agama mulai menggerakkan pesantren dan tarekat dalam gerakan pemberontakan untuk melawan Belanda.
Ledakan-ledakan mesianisme telah menunjukkan bahwa di dalamnya termuat tuntutan mengenai penyelamatan masyarakat, yang menjelma dalam ide kedatangan Ratu Adil dan Imam Mahdi.

Gerakan-Gerakan Sekte Keagamaan
Di luar arus perkembangan mesianisme yang berlangsung selama abad ke 19 dan 20, terdapatlah pertumbuhan sekte-sekte keagamaan yang baru, yang memuat berbagai tingkatan kepercayaan dan pandangan, baik dari tingkatan kepercayaan Islam yang orthodox maupun tingkat ide-ide yang mencerminkan sikap yang bertentangan dengan Islam. Sekte tidak lain adalah merupakan ekspresi keagamaan dari perasaan tidak puas suatu masyarakat dan perasaan-perasaan untuk memberontak, hasil perjuangan kelas organisasi dari kelas bawah dan peralatan dari sifat agresif mereka.
Mengenai ciri umum yang berhubungan dengan sektarianisme dan mesianisme dapat dilihat di dalam masalah peranan pemimpin agama dan ajarannya. Dari segi isi ideologinya, ada kemiripan yang terkandung di dalam gerakan mesianistis dan gerakan sektaris. Salah satu ciri lain dari gerakan sekte ialah adanya pengawasan yang ketat terhadap anggota-anggotanya.

Gerakan-Gerakan Sarekat Islam di Daerah Pedesaan
Gerakan protes dari kaum petani tidak hanya merupakan pernyataan tidak puas terhadap mereka yang berkuasa, tetapi juga merupakan cerminan dari jawaban mereka terhadap suatu masalah komunikasi yang mereka hadapi. Kaum petani tidak memiliki saluran-saluran untuk menyatakan keluhan-keluhannya mengenai apa yang menimpa mereka. Munculnya Sarekat Islam dalam situasi yang demikian itu dapat memberikan peralatan yang berarti sekali dalam mewujudkan keinginan dan kekuatan yang ada di lingkungan kaum petani melalui saluran ideologi, kepemimpinan, organisasi dan lambang-lambang dari organisasi tersebut. Sarekat Islam telah mendorong ke arah proses mobilisasi politik secara modern dari kalangan penduduk pedesaan.
Beberapa sifat penting dari gerakan Sarekat Islam ialah :
1.      bersifat anti-Cina
2.      sikapnya yang agresif terhadap penguasa pemerintah
3.      sifat menyendirinya dan bermusuhnya terhadap orang-orang ”luar”
4.      sifatnya revivalistis yang penting.
Selama dua tahun, tahun 1913 dan 1914, pertentangan komunal menjadi suatu corak yang umum di berbagai tempat di Jawa. Tahun-tahun itu boleh dikatakan merupakan periode memuncaknya agitasi anti-Cina.
Berdampingan dengan perluasan Sarekat Islam, gelombang revivalisme melanda juga daerah Jawa. Gerakan Sarekat Islam dan gerakan revivalisme dalam kenyataannya memang saling memperkuat. Agitasi Sarekat Islam sebagian memang ditujukan juga untuk memperkuat pelaksanaan keagamaan dan memperkuat semangat keagamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar